"Oh, pagi telah menjelang. Ayam jantan sudah berkokok. Sungguh aneh! Kenapa ayam jantan itu berkokok sebelum garis putih itu muncul di ufuk timur?" pikir perompak itu.
Perompak itu amat kecewa dan malu. Ia berdesis garang, "keparat! Rara Anteng berhasil mengalahkanku!" Lalu, ia melemparkan tempurung kelapa yang dipegangnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Ajaib! Tempurung yang jatuh tengkurap itu menjelma menjadi sebuah gunung. Gunung itu kemudian dinamai Gunung Batok, sedangkan lautan yang belum berair itu disebut Segara Wedi(lantan pasir).
Ketika tahu bahwa perompak itu telah pergi, Rara Anteng bersuka ria. Ia berhasil mengalahkan perompak itu meskipun dengan cara yang licik. Rara Anteng kemudian menikah dengan Jaka Seger. Mereka ingin punya tempat tinggal yang damai. Mereka membabat hutan dan mendirikan sebuah pedesaan.
Desa itu dinamai Tengger yang merupakan petikan dari nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Nama Rara Anteng didahulukan karena ia berderajat lebih tinggi. Ia keturunan dewa sedangkan Jaka Segar keturunan seorang pendeta.
Kedua orang itu hidup bahagia. Mereka mempunyai banyak keturunan. Sampai kini keturunan Rara Anteng dan Jaka Segar tetap menghuni Dusun Tengger. Mereka disebut Suku Tengger.