Rakyat Majapahit lalu tinggal di lereng Gunung Bromo, sedangkan para dewata memilih tinggal di lereng Gunung Pananjakan yang letaknya jauh dari Gunung Bromo.
Seorang dewi menitis menjadi manusia. Sewaktu dilahirkan, bayi perempuan titisan dewi itu berparas cantik. Ia tidak menangis seperti bayi-bayi lainnya, sehingga bayi itu diberi nama Rara Anteng.
Pada saat yang bersamaan, istri seorang pendeta melahirkan bayi laki-laki. Bayi itu amat tampan dan bercahaya wajahnya. Tenaganya sangat luar biasa: genggamannya erat, tendangannya kuat, dan tangisnya kencang. Lalu ia dinamai Jaka Seger.
Hari demi hari kedua bayi itu menjadi besar. Jaka Segar berubah menjadi seorang pemuda rupawan. Rara Anteng menjelma menjadi seorang gadis manis. Karena sering bertemu, kedua remaja itu pun saling menaruh hati.
Namun, Rara Anteng yang jelita menjadi rebutan para pemuda. Mereka berlomba-lomba ingin meminangnya. Sayang sekali, cinta Rara Anteng hanya untuk Jaka Segar. Ia pun menolak semua pinangan untuknya.
Suatu hari seorang perompak yang sakti datang meminang Rara Anteng. Kali ini, Rara Anteng tak berani langsung menolak pinangannya, sebab selain sakti, perompak itu amat bengis.
"Jangan bergirang dulu, karena lautan itu harus selesai dalam waktu satu malam saja. Ketika matahari terbenam kau boleh mulai membuat lautan itu. Esok paginya, sewaktu ayam jantan pertama kali berkokok, lautan itu harus selesai," tutur Rara Anteng menambahkan.